Header Ads

“Bisnis” Sekolah, Sekolah untuk “Bisnis”

Sebelum saya memulai menuangkan unek- unek saya, mohon untuk yang baca memberikan waktu dan saya harap anda membaca tulisan ini dalam keadaan santai relax dan tidak dalam tensi tinggi. Tulisan ini mungkin sedikit “nyelekit”, tapi sekali lagi saya tekankan ini adalah unek- unek dalam benak saya yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan sebelumnya kenapa saya meminta anda yang membaca tulisan ini dalam keadaan relax maksud saya adalah untuk menghindari hal- hal yang tidak saya inginkan,

ketika anda membaca tulisan ini kemudian ada pihak- pihak tersinggung atau “merasa” sesuai dengan kenyataan yang saya tulis mohon untuk dimaklumi dan anda anggap sebagi koreksi diri anda saja tidak lebih dari itu saya mempunyai hak untuk meluangkan pikiran saya dalam sebuah tulisan.

Langsung ke topic pembahasan Sekolah untuk “Bisnis” apa “Bisnis” sekolah, Alkisah ada sebuah lembaga pendidikan baik itu yayasan atau milik pemerintah sekalipun baik itu negeri atau swasta dipimpin oleh seorang pimpinan, pemimpin ini tentunya memiliki kekuasaan penuh atas jalanya lembaga tersebut tanpa peduli keadaan dilapangan sebenarnya seorang pemimpin hanya terima keadaan, terima jadi, terima beres entah apa kondisi sebenarnya yang terjadi dalam lembaga yang dipimpinya. Sang pemimpin pun tidak pernah memikirkan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas lembaga yang dipimpinya. Suatu hal yang sangat ironis ketika seorang pemimpin sebuah lembaga memasukan unsure bisnis dalam dunia pendidikan (sekolah), Saya sebutkan poinya langsung sekolah, ketika dunia bisnis bergabung dengan sekolah maka yang ada dalam perjalanan sebuah sekolah tersebut tidak lain hanyalah bisnis dan bisnis tanpa terbersit sedikitpun untuk meningkatkan kualitas sekolah tersebut. Alhasil lulusan dari sekolah tersebut pn tidak berkualitas dan hanya menang gengsi dan nama biasanya yang terjadi dalam kenyataan dalam masyarakat.

Pemimpin yayasan atau sekolah menjadikan sekolah sebagai media untuk meningkatkan jabatan yang sedang dipimpin, yang dipikirkan pemimpin hanyalah pangkat dan ketenaran saja, OK fine baik jika pemimpin sekolah atau yayasan ini mempunyai relasi atau kerjasama dengan berbagai macam pihak untuk menunjang fasilitas sekolah misalkan namun secara tidak sadar dengan adanya kerjasama tersebut antara yayasan dengan pihak perusahaan misalkan, pihak luar yayasan ini menuntut untuk minta ini, itu dari pihak yayasan atau sekolah ini, maka secara tidak langsung campurtangan dari pihak luar sekolah masuk dalam lingkup intern sekolah.

Langsung saya beri contoh real, ditempat saat ini saya menuntut ilmu di salahsatu perguruan tinggi di jawa timur saya mengambil jurusan teknik elektro konsentrasi informatika computer, Seperti pada umumnya dosen memberikan matakuliah di perguruan tinggi diberi diktat, fotocopy materi, atau yang langsung memberikan materi dengan menulis langsung. Yang menjadi pertanyaan saya ketika seorang dosen matakuliah memberikan materi kuliah hanya sebatas pengetahuan umunya saja bahkan dasar- dasarnya saja boleh dikatakan yang pada hakikatnya pada SILABUS perkuliahan sudah ditentukan untuk diajarkan kenapa dosen tersebut tidak mengajarkanya kepada mahasiswa, Beralih pada matakuliah yang lumayan sulit dan hanya dosen bersangkutan yang menguasai bidang matakuliah bersangkutan malah dose tersebut membuka pelatihan sendiri atau workshop yang dibuka untuk mahasiswa disekita kampus dan bahkan ada yang sampai keluar kampus dengan membeyara beberapa rupiah. Apakah menurut anda ini bukan bisnis, sedikit imu yang lebih sulit buka pelatihan bayar sedikit- sedikit bayar bayar dan bayar. Tentunya siswa terbebankan dengan biaya tambahan untuk praktikum pelatihan workshop yang seharusnya materi kuliah tersebut dapat diperoleh pada waktu kuliah berlangsung.

Pernah dosen saya bilang kuliah itu hanya untuk cari gelar dan nilai saja pintar cari di luar kampus sesuai dengan minat bidang anda (mahasiswa) masing- masing. Begitu juga dengan pilitik bisnis yang dilakukan oleh beberapa kepala sekolah sekolah menengah atas yang bekerjasama dengan perguruan tinggi tertentu di Indonesia, yang jelas ada niat “tidak baik” dalam kerjasama antara pihak sekolah dengan university yang menguntungkan segelintir orang saja.

Apakah anda pernah merasakan demikian namun anda diam saja atau bahkan mungkin tempat anda menimba ilmu sekarang terjadi semacam itu. Anda perlu bersabar kayaknya untuk menghadapi itu semua dan menyimpan perasaan unek- unek dalam benak anda tanpa anda perlu buka mulut. Bagaimana pendidikan bangsa ini bias maju. Di beberapa Negara maju sudah menerapkan pendidikan gratis murni dari tingkat TK sampai SMA semua dibiayai oleh Negara dan nantinya putra- putrid terbaiknya untuk bangsanya sendiri juga, tidak seperti di Negara kita orang- orang yang pintar jenius pandai meraka semua pergi di luar negeri, kepandaian mereka dimanfaatkan oleh bangsa lain itu sebabnya karena bangsa kita kurang menghargai anak- anak bangsa kurang memperhatikan nesib asset- asset neegara yang bisa menignkatkan taraf bangsa di dunia internasional.

Seringkali Indonesia meraih gelar terbaik dalam lomba ilmu pengetahuan internasional namun itu semua hanya hot issue sekejap yang keudian menghilang tanpa ada tindak lanjutnya.

No comments

Silahkan berikan komentar yang membangun

Powered by Blogger.