Header Ads

Antisipasi Rusuh Yaman, RI Data 3.000 WNI

Malang, VIVAnews -- Gelombang demokratisasi di dunia Arab tak hanya terjadi di Mesir. Kemarin, puluhan ribu demonstran berkumpul di ibukota Yaman, Sana’a. Mereka menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh turun dari tahtanya selama 32 tahun. Ia dinilai korup dan tak becus.


Meski aksi di Yaman berjalan relatif damai, Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa mengatakan, pemerintah telah bersiap.

"Kami sudah memberikan travel advisory pada warga kita di negara-negara kawasan seperti Yaman, yang situasinya juga penuh dinamika," kata Marty di Kantor Kepresidenan, Jumat 4 Februari 2011.

Dijelaskan, perwakilan Indonesia sudah bekerja, mendata warga negara kita di Yaman yang jumlahnya sekitar 3.000 orang. "Agar seandainya keadaan memburuk, kita sudah siap," tambah Marty.

Seperti diketahui, krisis awal di dunia Arab terjadi kali pertama di Aljazair. Lalu 'menular' ke Tunisia yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Ben Ali. Sempat membangkitkan gelombang aksi di Yaman, lalu meledak di Mesir. Kini, Yaman kembali bergolak.

Terkait situasi Mesir, Menlu mengatakan, dalam 48 jam terakhir pemerintah terus memantau perkembangan. Sebab, apa yang terjadi di 'negeri seribu menara' itu bisa berimplikasi sangat luas, bukan hanya bagi Indonesia.

"Mesir adalah negara yg sangat berpengaruh di kawasan, peranannya di Liga Arab, di OKI (Organisasi Konferensi Islam), peranannya dalam percaturan perundingan Timur Tengah, tentu dengan situasi dan kondisi sekarang ini, berbagai peranan itu akan membawa dampak."

Indonesia, tambah Marty, menginginkan bangsa Mesir bisa mengatasi masalahnya dengan baik.

Sebagai negara yang pernah mengalami situasi yang sama, saat peralihan kekuasaan tahun 1998 lalu, Indonesia bisa punya peran lebih untuk dunia Arab. "(Indonesia) kaya dengan pengalaman yang mungkin bisa kita bagikan kepada pihak-pihak yang memerlukan hal itu," kata Marty.

Masih soal situasi Mesir, Marty mengatakan, pemerintah masih punya pekerjaan rumah yang harus ditangani. Selain berusaha mengevakuasi WNI dari Mesir, pemerintah juga akan menfasilitasi penerbangan mahasiswa kembali ke Mesir setelah situasi aman. Agar tak terganggu studinya.

Fasilitas penerbangannya gratis, Pak Menlu? "Insya Allah," jawab Marty, pendek. (umi)

• VIVAnews

No comments

Silahkan berikan komentar yang membangun

Powered by Blogger.