Header Ads

5.000-an Warga Jepang Demo Tolak PLTN


TOKYO, KOMPAS.com — Ribuan orang berunjuk rasa di Tokyo, Minggu (24/4/2011), menuntut penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepang untuk kemudian beralih ke energi altenatif.

Sikap itu menyusul terjadinya krisis di sebuah PLTN yang dihantam gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu. Para pengunjuk rasa mengusung slogan bye bye genpatsu, selamat tinggal PLTN. Mereka berjalan di sepanjang rute dari Taman Yoyogi di pusat ibu kota Tokyo.

Para penyelenggaranya memperkirakan, 5.000 orang mengambil bagian dalam unjuk rasa itu. "Kami khawatir. Sebelum Fukushima, saya tidak memikirkan mengenai hal itu, tetapi sekarang kami harus bertindak, kami harus melakukannya untuk anak-anak kami," kata Hiroshi Iino (43) yang bergabung dengan "parade pengalihan energi" dengan istri dan dua anak laki-lakinya, yang berusia lima dan sembilan tahun.

Guru bernama Yoko Onuma (48) menuturkan, ia sudah dua kali ikut demonstrasi sejak musibah di PLTN Fukushima Daiichi, tempat radiasi bocor yang memaksa 80.000 orang mengungsi sejauh 20 kilometer dari tempat itu.

"Sebelumnya, saya tidak menyadari bahaya pusat pembangkit listrik tenaga nuklir," ujarnya. "Namun, sekarang kami harus memobilisasi banyak orang, seperti yang terjadi di negara lainnya, seperti Jerman."

Direktur Greenpeace Jepang Junichi Sato, salah satu penyelenggara unjuk rasa itu, mengatakan, hingga sekarang beberapa orang telah memprotes PLTN menyusul bencana gempa-tsunami yang menyebabkan lebih dari 26.000 orang tewas atau hilang.

"Pada bulan lalu, semua orang memusatkan pada korban tsunami ... mengenai bagaimana mengakhiri krisis itu," kata Sato. "Di luar (di negara lain), mereka telah melompat secara langsung ke masalah energi," katanya. "Namun, mobilisasi akan meningkat di Jepang."

Sekitar 2.000 orang mengambil bagian dalam demonstrasi antinuklir terpisah di bawah slogan "Anti-TEPCO", merujuk ke operator PLTN itu yang diadakan secara serempak beberapa kilometer dari tempat itu di Taman Shiba.

Masalah kemungkinan penghapusan setahap demi setahap PLTN sekarang telah diperdebatkan secara terbuka dalam arena politik di Jepang.

"Kami tidak bekerja tanpa energi nuklir, tetapi kami harus memikirkan mengenai cara PLTN itu dibangun dan kecepatan pembangunannya," kata Katyusa Okada, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Jepang beraliran kiri-tengah yang berkuasa, Jumat.

Sebelum tsunami yang menyebabkan penutupan 12 reaktor, hampir 30 persen listrik Jepang dibangkitkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir.

Jepang yang kekurangan sumber sangat tergantung pada minyak Timur Tengah, tetapi perusahaan-perusahaan teknologi tingginya adalah juga pemimpin dunia di banyak teknologi lingkungan dan penghematan energi.

No comments

Silahkan berikan komentar yang membangun

Powered by Blogger.