Header Ads

Legenda Kuliner Nusantara yang Khas dan Unik

KOMPAS.com - Citarasa Asia soal makanan sungguh kaya, dan Indonesia termasuk di dalamnya. Sebut saja sejumlah negara di Asia yang memiliki keunikan dan kekhasan kulinernya. Thailand, India, semua punya legenda kuliner yang menggoda. Indonesia, juga kaya dengan pilihan kuliner. Berburu kuliner seharian takkan bisa menuntaskan rasa ingin tahu atas ragam pilihan selera khas nusantara.

Festival Jajanan Bango (FJB) 2011 memulai perjalanannya di Bekasi, Sabtu (23/4/2011). Sekitar 10 legenda kuliner khas Bekasi dijajakan dan memanjakan lidah. Sedangkan lebih dari 30 kuliner khas nusantara memeriahkan kegiatan festival kuliner satu hari ini. Kuliner dikatakan melegenda jika keberadaannya lebih dari 10 tahun melayani selera masyarakat setempatnya. Kuliner lokal yang melegenda seperti ini banyak ditemui di berbagai kota di Indonesia. Karenanya, FJB berencana menyambangi empat kota lain setelah Bekasi. Depok, Sidoarjo, Kediri, dan Malang dianggap juga memiliki kuliner khas melegenda.

Di Bekasi, Gabus Pucung Ibu Wati atau Sate Kelinci H Zaenal sudah tak asing lagi. Gabus Pucung buatan Ibu Wati yang hangat dan segar, dengan kuah kecap, dijajakan di FJB Bekasi. Kuliner khas Bekasi ini sudah 14 tahun melayani selera pembeli di kawasan Rawa Panjang, Bekasi. Berlokasi di Jalan Kartini, Gabus Pucung Ibu Wati rutin melayani pembeli setiap hari. Pemiliknya, Wati, menghabiskan 20 kilogram gabus setiap hari. Selain gabus, sup tulang iga sapi juga banyak digemari. Khusus tulang iga, Wati menghabiskan 150 kilogran tulang iga perharinya. Perempuan asli Betawi ini dinilai layak dinobatkan sebagai pemilik legenda kuliner khas nusantara di FJB 2011.

Lain lagi kisahnya dengan H Zaenal, pemilik Pondok Sate Kelinci. H Zaenal sehari-hari berjualan di kawasan Kalimalang, perbatasan Jakarta Timur menuju Bekasi. Kegigihan H Zaenal membuat pondok satenya bertahan hingga kini. Maklum, dulunya, ia berjualan menggunakan tenda dan selalu saja menjadi korban gusur paksa. Meski begitu, kekhasan sate kelinci buatannya bikin pelanggan selalu merindu untuk datang lagi ke kedainya. Kuncinya, H Zaenal tak main-main dalam penggunaan bahan makanan, dengan memerhatikan kualitas masakan. Pemilihan daging kelinci juga harus tepat, dari segi umur maupun cara memasaknya. Bumbu yang digunakan konsisten turun temurun. Alhasil, pelanggan senang memanjakan lidah di pondoknya. Dalam sehari, H Zaenal melayani ratusan pelanggan mulai pukul 11:00 hingga 23:00 WIB.

H Zaenal juga mengedukasi pelanggannya. Stan Sate Kelinci miliknya di FJB 2011 memasang spanduk berisi penjelasan manfaat olahan kelinci. Disebutkannya, daging kelinci rendah lemak dan kolesterol mengandung protein tinggi. Mengonsumsi olahan kelinci bisa membantu kelancaran persalinan dan membantu meningkatkan kesuburan pria dan wanita. Boleh jadi, penjelasan ini adalah strategi berdagang ala H Zaenal. Apapun itu, Pondok Sate Kelinci H Zaenal membuktikan, dagangannya layak dikategorikan legenda kuliner nusantara oleh Kecap Bango.

Selain khas, festival kuliner nusantara juga punya keunikan. Seperti stan rujak cingur yang didatangkan langsung dari Surabaya. Nur Aini, pemilik Rujak Cingur Sedati dari Surabaya membawa serta cobek berukuran jumbo untuk menyiapkan bumbu rujak cingur yang khas. Tak butuh waktu lama bagi Nur Aini untuk menyiapkan bumbu rujak dengan cobek batu dan ulekan kayu. Satu cobek besar miliknya bisa menampung kebutuhan bumbu rujak untuk 150 porsi. Keunikan dan kekhasan kuliner lokal seperti ini hanya bisa ditemukan di Indonesia yang kaya citarasa juga selera.

No comments

Silahkan berikan komentar yang membangun

Powered by Blogger.