Header Ads

Pemkab Kaur Tertibkan Penjualan Barang Impor

Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kaur, Provinsi Bengkulu, akan menertibkan menjamurnya barang-barang pakaian impor dijual pedagang pendatang dengan harga rendah, sehingga mematikan barang produk dalam negeri.

"Kita akan tertibkan barang itu diduga dipasok dari luar negeri dan dijual murah menjelang puasa dan lebaran, karena pedagang lokal terancam dagangannya tidak laku," kata Kepala Dinas Disperindag UKM Kabupaten Kaur, Sarjoni Hanapi, Sabtu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koprasi dan UKM (Disperindag UKM) Kabupaten Kaur itu mengatakan, menjelang Ramadhan produk impor membanjiri pasar Kota Bintuhan Kabupaten Kaur, sebagian besar diduga produk ilegal.

Hal tersebut terlihat tidak adanya keterangan ditulis dengan bahasa Indonesia pada produk impor tersebut, melainkan bertuliskan negara asal barang, antara lain bahasa Cina dan bahasa Inggris.

"Kalau tidak ada izin dari pemerintah Indonesia dan tidak ada Standar Nasional Indonesia (SNI) artinya barang impor itu ilegal," tandasnya.

Ia mengakui, akibat banjirnya produk luar negeri dipasok dari Jakarta lewat Lampung atau diduga dari kapal ikan besar, saat ini sudah beredar bebas di pasar Kota Bintuhan.

Akibatnya pedagang lokal dengan menjual pakaian produk dalam negeri merasa tersaingi dan mengeluh karena pedagang barang impor itu sebagian besar datang dari luar Bengkulu, ujarnya.

Persiapan menjelang Ramadhan dan lebaran, kebutuhan masyarakat meningkat, seperti tas, kaos kaki, sepatu, sandal dan pakaian, juga dimanfaatkan para importir untuk memasok barang sebanyak-banyaknya dengan harga murah.

Mestinya barang impor sebelum beredar di Indonesia termasuk di Kabupaten Kaur, harus terdaftar dalam SNI, sehingga barang-barang tersebut bisa terjamin kualitasnya.

"Kita akan melakuan pemeriksaan menjelang Ramadhan nanti dengan menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan penertiban," ujar Sarjoni.

Seorang pedagang pakai di Pasar Bintuhan, Edi Chan mengatakan sejak membanjirnya barang impor di wilayah itu masyarakat sudah jarang membeli produk dalam negeri seperti yang dijualnya.

"Sementara kami ingin membeli barang impor untuk dijual lagi pedagang dari luar itu tidak memberikan harga korting, sehingga bila dijual lagi ke masyarakat tidak mendapat untung," katanya.

Dengan demikian pedagang lokal melakukan perotes terhadap Pemkab Kaur agar menertibkan pedagang luar berjualan di sepanjang jalan raya dengan harga rendah, sedangkan kualitasnya menurut warga cukup bagus, ujarnya.

No comments

Silahkan berikan komentar yang membangun

Powered by Blogger.