Header Ads

Warga Setrojenar Akan Gugat Presiden SBY dan Militer

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Hanan Wiyoko

TRIBUNNEWS.COM, KEBUMEN – Para korban kerusuhan Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jawa Tengah, berniat menggugat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan militer. Hal itu terkait belum diprosesnya para pelaku penembakan, penganiayaan, dan perusakan sepeda motor warga oleh anggota TNI AD.

Hingga saat ini yang diproses baru pada kalangan sipil. Pada Kamis lalu (8/9/2011), enam terdakwa kasus kerusuhan Setrojenar divonis lima dan enam bulan penjara. Sedangkan pelaku penembakan, penganiayaan, dan perusakan sepeda motor warga belum juga dibawa ke pengadilan.

"Yang diproses baru pihak warga. Harusnya pihak TNI juga turut diproses. Atas ketidakjelasan ini saya merasa kecewa,” kata Aris Panji, seorang korban yang pada saat kejadian pelipis kanan robek dan mulutnya robek dan harus diopname di rumah sakit selama beberapa hari.

Bentrokan antara warga dan anggota TNI AD terjadi Sabtu (16/4/2011) di kompleks Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AD. Akibatnya, 14 warga Setrojenar dilarikan ke RSUD Kebumen karena mengalami luka tembak dan tindak kekerasan.

Selain itu 12 sepeda motor warga yang ada di sekitar lokasi juga rusak. Semua barang bukti motor tersebut saat ini sudah ada di Mako Sub Denpom Purworejo.

Ketua Hukum Tim Advokasi Petani Urut Sewu Kebumen (Tapuk), Teguh Purnomo membenarkan rencana korban untuk melakukan gugatan perdata atas permasalahan tersebut.

“Kami merespon dan akan menindak lanjuti keinginan para korban tersebut dengan menggugat Presiden RI," kata Teguh saat dihubungi Minggu pagi (11/9/2011).

Selain itu, kata Teguh, warga juga akan menggugat Panglima TNI, KASAD, Pangdam IV/Diponegoro dan Dan Dislitbang TNI AD yang berada di Setrojenar, Kebumen.

"Karena salah satu tergugatnya ada di Kebumen, maka kemungkinan besar gugatan nantinya akan kami daftarkan di Pengadilan Negeri Kebumen,” pungkasnya.

No comments

Silahkan berikan komentar yang membangun

Powered by Blogger.